Sejarah Herman Nicolaas Ventje Sumual

By: ronald sondakh

Herman Nicolaas Ventje Sumual

Sulut, sulutexpress.com-Permesta adalah singkatan dari Perjuangan Semesta atau Perjuangan Rakjat Semesta. Permesta sebenarnya bukanlah sebuah pemberontakan terhadap pemerintah Republik Indonesia namun berupa tuntutan terhadap pemerintah RI mengenai pembagian kekuatan politik dan ekonomi yang lebih adil di Indonesia.

Tokoh yang mencetuskan Permesta adalah Herman Nicolaas Ventje Sumual yang lebih di kenal dengan nama Letkol Ventje Sumual.

Beliau adalah salah satu perwira menengah TNI di jaman pemerintahan Presiden Soekarno.

Berayahkan seorang sedadu Belanda (KNIL) berpangkat sersan, Tokoh Permesta ini dilahir pada tanggal 11 Juni 1923 di Remboken, Minahasa, Sulawesi Utara.

Pada tanggal 2 Maret 1957 di Makassar, Letkol Ventje Sumual memproklamirkan berdirinya Piagam Perjuangan Semesta dan menyatakan SOB (staat van oorlog en beleg, negara dalam keadaan bahaya) di Indonesia Timur dan didukung oleh tokoh-tokoh Indonesia Timur.

Awalnya masyarakat Makassar mendukung Permesta namun akhirnya mereka menolak adanya Permesta karena itulah pada tahun 1958, Markas Besar Permesta dipindahkan ke Manado.

Di Manado kemudian diadakan pertemuan yang dilaksanakan diruang rapat gedung Universitas Permesta di Sario, Manado yang dihadiri oleh tokoh-tokoh politik, masyarakat, dan cendekiawan yang kemudian melahirkan proklamasi Permesta yang bertujuan untuk memutusan hubungan dengan pemerintah pusat.

Selanjutnya Pemerintah Pusat memecat dengan tidak hormat kepada Letkol HN Ventje Sumual, Mayor Eddy Gagola, Mayor Dolf Runturambi, Mayor DJ Somba, Kapten Wim Najoan dan melakukan operasi-operasi militer untuk menghentikan gerakan-gerakan kemerdekaan sehingga menimbulkan kontak senjata antara Permesta dan Pemerintah Pusat.

Permesta saat itu mendapat bantuan dari Amerika Serikat dan negara-negara pro Barat seperti Taiwan, Korea Selatan, Philipina.

Amerika kemudian mendatangkan penasehat militer AS serta memberikan sejumlah bantuan berupa alat-alat perang kepada Permesta.

Setelah perlawanan Permesta dapat dipukul mundur oleh Pemerintah Pusat, tahun pada 1961 para prajurit Permesta menyerah dan menyatakan sumpah kesetiaannya kepada pemerintah pusat dan pada tahun 1961, Permesta dinyatakan bubar.

Ventje akhirnya menyerahkan diri dan dikarantina di Rumah Tahanan Militer Cipayung hingga tahun 1963, Ventje kemudian dipindahkan kerumah Tahanan Militer, Setiabudi, Jakarta hingga 1966.

Tanggal 26 Juli 1966 pada masa Orde Baru, Ventje dan kawan-kawan dinyatakan bebas dengan datangnya Adnan Buyung Nasution yang saat itu adalah seorang jaksa dengan membacakan surat pembebasan mereka.

Ventje melanjutkan hidupnya sebagai pengusaha yang kemudian meninggal dunia akibat menderita kanker di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, pada tanggal 28 Maret 2010 .

Jenazah Ventje kemudian dimakamkan di Pemakaman Umum Menteng Pulo, Jakarta. (SE)

66 kali dilihat, 6 kali dilihat hari ini

Bagikan berita ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to Top