Tim Gabungan Ditjen Gakkum, BKSDA Sulut dan Polda Sulut Berhasil Amankan 16 Satwa Liar Dilindungi di Manado

MANADO, Sulutexpress.com – Tim Gabungan Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Ditjen Gakkum LHK) bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara (Sulut) dan Direktorat Tipidter Polda Sulut telah melaksanakan operasi gabungan peredaran Tumbuhan Satwa Liar (TSL) selama satu minggu sejak Sabtu (5/9/2020).

Meski di tengah pandemi Covid-19 dan masa pemilihan Kepala Daerah baru Provinsi Sulawesi Utara, Tim gabungan ini tidak pernah mengenal lelah dalam upaya penyelamatan SDA alam kehutanan khususnya terkait satwa liar yang dilindung undang-undang dan tetap menjalankan tugas dengan memperhatikan protokol kesehatan.

Sampai dengan hari ini, Tim Gabungan berhasil mengamankan sebanyak 16 (enam belas) ekor satwa liar yang termasuk jenis satwa yang dilindungi Undang-Undang.

Dari 9 (sembilan) lokasi berbeda, Tim berhasil mengamankan barang bukti Satwa liar dilindungi yang berdasarkan identifikasi oleh petugas yaitu 3 (tiga) ekor Kakatua Jambul Putih (Cacatua alba), 2 (dua) ekor Kakatua Jambul Kuning (Cacatua sulphurea), 3 (tiga) ekor Nuri Bayan (Eclectus roratus), 2 (dua) ekor Nuri Ternate (Lorius garrulus), 1 (satu) ekor Kasturi Kepala Hitam (Lorius lory), 1 (satu) ekor Tiong Nias (Gracula robusta), 2 (dua) ekor Nuri Kalung Ungu (Eos squamata), 2 (dua) ekor Monyet Yaki (Macaca nigra), 2 (dua) buah sangkar besi.

Operasi ini juga masih berlanjut untuk wilayah-wilayah lainnya sesuai dengan laporan intelijen sebelumnya dan Operasi Peredaran TSL ini dilakukan dengan pendekatan persuasif. Tim menjelaskan kepada pemilik satwa bahwa satwa yang dipelihara termasuk satwa yang dilindungi sehingga perlu dilakukan pengamanan oleh petugas.

Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan, Ir. Sustyo Iriyono, M.Si menegaskan bahwa ini dilakukan untuk pengamanan peredaran TSL yang dilindungi dan merupakan komitmen pemerintah dalam menyelamatkan Sumber Daya Alam (SDA).

“Apalagi di daerah Sulawesi Utara ini terkenal dengan kebiasaan masyarakat dalam konsumsi satwa-satwa ekstrim, jika kita tidak mulai melakukan penindakan tegas maka dikhawatirkan kedepannya Sumber Daya Alam (SDA) kita habis dan tidak akan dikenal lagi oleh anak cucu kita. Selain itu dampaknya juga berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem di alam juga akan terganggu sehingga menimbulkan permasalahan ekologi lainnya,” pungkasnya.

Sementara itu Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Utara, Ir. Noel Layuk Allo, MM menambahkan pihaknya akan terus melakukan Operasi pengamanan dan peredaran TSL dilindungi di Provinsi Sulawesi Utara.

“Saat ini kami sedang mengembangkan informasi terkait jaringan-jaringan perdagangan satwa ke luar negeri. Berkenaan dengan hal itu, kami akan terus bekerja sama dengan Ditjen Gakkum dan aparat penegak serta pihak terkait lainnya melakukan sosialisasi, pencegahan dan penindakan terhadap pelaku peredaran TSL illegal. Diharapkan upaya tersebut mampu memberikan efek jera sehingga peredaran satwa liar dilindungi di Provinsi Sulawesi Utara berkurang/ tidak terjadi lagi,” tukasnya.

Diketahui, saat ini Tim Operasi Gabungan telah mengamankan sebanyak 16 (enam belas) ekor satwa liar tersebut di kandang transit BKSDA Sulut. Selanjutnya untuk menjamin kesejahteraan, rehabilitasi dan pengembalian kesehatan keseluruhan satwa dilindungi tersebut, maka hasil operasi akan dititipkan di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Yayasan Tasikoki di Bitung untuk mendapatkan rehabilitasi oleh tim dari PPS Tasikoki.

(Egen)

 17,106 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *