Pena berubah Pedang:Tulisan yang Tampak Seperti Kritik bisa Menjadi Alat Manipulasi
Oleh: Michael Towoliu SH
DALAM tradisi akademik, kebebasan berpikir selalu berjalan berdampingan dengan tanggung jawab moral.
Immanuel Kant menulis dalam What is Enlightenment?: “Gunakan akal budimu secara bebas, tapi hormatilah batas yang dijaga oleh etika.”Artinya, seorang intelektual boleh mengkritik siapa pun, tapi tidak boleh menginjak martabat seseorang.
Ketika kebebasan digunakan untuk menebar cemooh, maka yang lahir bukan lagi pencerahan, melainkan kegelapan intelektual.
Cahaya hati seseorang, bisa redup seketika dan tak selaras dengan fakta, ketika hatinya dibaluri berbagai kepentingan.
Kesimbangan dalam pikirannya, pudar hanya karena ada sebiji kepentingan, apakah itu kepentingan pribadi atau kelompok.
Tulisan yang tampak seperti kritik sejatinya bisa menjadi alat manipulasi, ketika ia tidak berbasis kepentingan tertentu, tidak berimbang, dan diarahkan untuk merusak reputasi.
Di sinilah bedanya antara kritik dan saran.Socrates mengajarkan bahwa kritik sejati adalah panggilan jiwa untuk memperbaiki diri dan dunia.
Sementara tulisan yang menyesatkan hanya memperlihatkan jiwa yang haus pujian dan dendam.
Memang benar, jika Universitas tampaknya akan menjadi ruang bisu tanpa keberanian berpikir.
Akan tetapi, kebebasan yang dinilai kurang beretika akan melahirkan kekacauan yang baru.
Misalnya, Universitas Samratulangi (Unsrat) Manado. Telah berdiri di atas sejarah panjang perjuangan dan pengabdian.
Dari kampus ini lah lahir ribuan cendekiawan, dokter, guru, dan pemimpin yang berkontribusi nyata bagi bangsa.
Tidak adil jika seluruh pengabdian itu dilenyapkan oleh opini yang lahir dari prasangka.
Unsrat pun bukan sekadar bangunan dan jabatan, ia adalah warisan moral Sam Ratulangi: “Si Tou Timou Tumou Tou”, manusia hidup untuk memanusiakan sesama:I nilah landasan berpikir pendahulu kita yang harus kita junjung tinggi.
Persoalan internal di dalam Unsrat, itu adalah ranah akademik, dan akan diselesaikan secara internal, bukan dari eksternal kampus.
Wajar bagi siapa saja untuk melancarkan kritikan, tapi jika terkesan mulai menghasut apalagi membuat opini yang berujung dengan “vonis” publik, itu sangat keterlaluan.
Membangun sebuah opini dengan narasi narasi dan intrik terselubung, jelas tidak bisa didiamkan. Terlebih jika sudah menyentuh kepada kepemimpinan Rektor.
Bagaimana bisa, orang di luar sistem, malah menebarkan opini dan seakan akan dia lebih tahu apa yang terjadi di dalam Unsrat? Perlu diingat bahwa Rektor adalah penjaga nilai, bukan target empuk bagi hasrat politik atau ego pribadi.Kritik yang benar memperkuat universitas, tapi kritik yang belandaskan kepentingan bisa menghancurkan kepercayaan publik terhadap ilmu pengetahuan.
Akan tetapi, di tengah derasnya arus perubahan global dan tekanan publik yang tak henti, Unsrat justru menjawab semua tantangan itu dengan karya nyata bukan dengan retorika, tapi dengan terobosan konkret yang menjadikan Unsrat sebagai salah satu universitas negeri paling progresif di Kawasan Timur Indonesia.
Dalam kepemimpinan yang visioner, Unsrat membuktikan diri sebagai pusat inovasi, integritas, dan kemanusiaan sejalan dengan semboyan “Si Tou Timou Tumou Tou,” Sesuai data yang dirangkum dari berbagai sumber, salah satu terobosan besar Unsrat adalah modernisasi sistem akademik berbasis digital.
Proses administrasi, KRS, penilaian, hingga publikasi ilmiah kini berjalan lebih cepat, transparan, dan efisien.Sistem daring yang dibangun Unsrat tidak hanya memudahkan mahasiswa dan dosen, tapi juga meningkatkan integritas akademik dengan menutup ruang bagi praktik-praktik lama yang tidak efisien.
Lebih dari itu, Unsrat telah mengembangkan platform riset dan inovasi digital, memungkinkan kolaborasi lintas fakultas dan mitra internasional sebuah lompatan besar menuju universitas berkelas dunia.
Dalam tiga tahun terakhir, Unsrat mencatat peningkatan signifikan dalam jumlah penelitian terpublikasi di jurnal nasional dan internasional bereputasi.
Mahasiswa dan dosen tidak hanya menulis untuk memenuhi kewajiban akademik, tetapi juga menciptakan inovasi yang menjawab kebutuhan masyarakat Sulawesi Utara dari teknologi kelautan, energi terbarukan, hingga pengembangan pertanian berkelanjutan.
Program riset unggulan “Unsrat untuk Desa” menjadi contoh nyata bagaimana ilmu pengetahuan diturunkan langsung ke masyarakat.
Inilah bentuk nyata pengabdian akademik yang hidup, bukan sekadar slogan.Unsrat juga dikenal dengan reformasi tata kelola yang transparan dan akuntabel.
Mulai dari pengelolaan keuangan, rekrutmen, hingga manajemen proyek, semuanya diarahkan pada integritas dan profesionalisme.
Langkah-langkah ini menjadikan Unsrat semakin dipercaya oleh berbagai lembaga nasional, termasuk Kementerian, BPK, dan lembaga mitra internasional.Kepercayaan itu tidak datang dari kata-kata, melainkan dari kinerja yang terukur dan disiplin kelembagaan: Unsrat tidak pernah lupa pada akarnya: Tanah Sulawesi Utara, tanah perjuangan, dan tanah kebudayaan.
Berbagai program pelestarian bahasa daerah, riset budaya Minahasa, hingga promosi wisata edukatif menempatkan Unsrat sebagai duta kebanggaan daerah.
Rektor Unsrat dan jajaran pimpinan Unsrat juga menunjukkan keteladanan melalui kerja nyata, bukan pencitraan.Kebijakan yang diambil jelas berpihak pada kebenaran dan kemajuan institusi.
Inilah wujud kepemimpinan akademik yang sesungguhnya, tegas dalam prinsip, lembut dalam pelayanan.
Di bawah kepemimpinan seperti ini, Unsrat tidak hanya bertahan dari badai kritik, ia tumbuh lebih kuat, lebih dihormati, dan lebih membanggakan.
Dengan adanya fakta fakta ini, Unsrat hari ini bukan sekadar kampus, tapi simbol perjuangan intelektual di ujung timur Indonesia.
Setiap mahasiswa yang lulus membawa bukan hanya ijazah, tapi juga tanggung jawab moral untuk menghidupi semboyan leluhur: Si Tou Timou Tumou Tou.
Untuk itu, kita semua warga Sulut, para dosen, mahasiswa, alumni, dan masyarakat, sudah sepatutnya berbangga karena Unsrat bukan hanya tempat belajar, melainkan rumah besar yang menjaga martabat ilmu.
1,815 total views, 10 views today

