Apa yang Terjadi Jika Pak Harto Gagal Menumpas G30S PKI?
Oleh: Michael Towoliu
BANGSA yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya. Ini merupakan salah satu kutipan dari sang proklamator tercinta, yang juga sebagai Presiden Republik Indonesia (RI) pertama, Ir Soekarno yang biasa disapa Bung Karno.
Bung Karno dianggap menjadi bapak bangsa, berkat kepiawainnya dalam perjuangan kemerdekaan Republik ini.
Tentunya, Bung Karno tidak sendirian, sang Presiden dikelilingi rekan rekan seperjuangan misalnya ada bung Hatta, Jenderal Soedirman, bung Tomo dan banyak lagi nama nama besar yang tercatat resmi dalam lembaran sejarah bangsa ini.
Peran para pahlawan ini pun beragam, bung Karno dkk berjuang melalui jalur politik dan diplomatik, sementara Jenderal besar Soedirman terjun langsung angkat senjata memimpin pasukan/tentara Indonesia melawan penjajah Belanda dan Jepang.
Darah pun terus mengalir membasahi tanah ibu pertiwi ketika Jenderal Soedirman memilih untuk terus bertempur, sementara bung Karno memilih jalur diplomatik dengan jalan siap ditahan atau dipenjarahkan.
Semua jalannya sejarah ini saya yakin telah diketahui persis oleh segenap anak bangsa.
Ada hal paling sakral sangat dramatis setelah Indonesia merdeka. apa itu? Bangsa ini terancam arah “kiblatnya” ketika Partai Komunis Indonesia (PKI) di bawah komando DN Aidit, mulai merasuki dan meracuni pandangan bangsa ini.
Gerak cepat PKI yang mulai menguasai arus bawah, hingga sang penguasa, makin tak terbendung.
Kala itu, pada masa Soekarno, tepatnya 1962, empat kekuatan bersenjata negara digabung menjadi satu organisasi besar bernama: ABRI — Angkatan Bersenjata Republik Indonesiayang terdiri dari: TNI AD (Angkatan Darat), TNI AL (Angkatan Laut), TNI AU (Angkatan Udara) dan POLRI (Kepolisian) — dulu menjadi bagian dari ABRI.
Peran ABRI di era itu mencakup termasuk politik “Nasakom”, Dwifungsi embrio, dan relasinya dengan PKI.PKI pun makin merajalela, dan mulai merencanakan merubah Ideologi bangsa menjadi Komunisme.
Puncaknya, pada tanggal 30 September 1965, pecahlah pemberontakan yang didalangi PKI. 7 jendral ABRI jadi target utama. Menggunakan kekuatan pasukan elit Cakrabirawa, Letkol Untung yang memegang kendali komando memerintahkan penculikan dan pembunuhan para Jenderal dengan alasan mereka tergabung dalam kelompok dewan jenderal.
Alhasil, 6 jenderal dan satu perwira menengah berpangkat Kapten, berhasil diciduk. Sadisnya, selain dijemput paksa dan ada yang langsung dibunuh di tempat, ketujuh korban di bawa ke lokasi lubang buaya, disiksa sebelum dibunuh dan dilemparkan ke dalam lubang itu.
Sadis? memang itu perbuatan sadis dan biadab. Situasi ini menjadi gempar, negara dalam posisi genting.
Para elit kekuasaan goyah, termasuk elit ABRI. Sungguh beruntung, muncullah seorang pahlawan, ketika nasib bangsa berada di ujung tanduk.
Jenderal Soeharto kala itu menjabat sebagai Panglima Kostrad (Pangkostrad), langsung bergerak.
Soeharto memimpin rencana pengamanan Ibukota dan menumpas serta memburu para pelaku.
Demi mengamankan situasi, kejadian itu terjadi dalam waktu 1 x 24 jam. Jelas sudah, Soeharto berhasil memimpin operasi pemulihan keamanan dan ketertiban (Kopkamtib).
Bukan hanya itu, Operasi penumpasan G30S PKI terus berlanjut dan melibatkan beberapa operasi, yang paling terkenal adalah Operasi Merapi di Jawa Tengah dan Operasi Trisula di Blitar Selatan, Jawa Timur.
Ada juga operasi lain yang lebih kecil seperti Operasi Kikis di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Lantas apa kekurangan Soeharto ketika melakukan penyelamatan bangsa ini dari cengkraman para antek antek PKI dan ancaman besar perubahan ideologi.
Memang tidak semua pemimpin itu sempurna. Benar kata Gus Dur, “Soekarno tidak sebaik yang kita kira dan Soeharto tidak seburuk yang kita kira”.
Ungkapan ini penuh makna yang mendalam. Tersirat dari penyataan Gus Dur itu, masa Soekarno, banyak juga terjadi penangkapan dan pemenjaraan terhadap tokoh tokoh pejuang seperti Sutan Sjahrir, Buya Hamka hingga pembubaran partai Islam seperti Masyumi.
Di zaman Soeharto, banyak terjadi pelanggaran HAM dan sarat KKN. Akan tetapi, lepas dari itu, kedua pemimpin baik Soekarno maupun Soeharto di mata rakyat adalah penyelamat bangsa.
Coba bayangkan, bagaimana jika Soekarno gagal memplokamirkan kemerdekaan RI? atau Soeharta gagal dalam misinya menyelamatkan negeri ini dari pengaruh kekuatan besar Komunis? Jika pak Harto gagal, maka generasi sebelum pecah G30S 1965 dan hingga kini 2025, termasuk para pembenci Soeharto, dipastikan semua wajib berpaham komunis.
Sebab Ideologi adalah kumpulan gagasan, keyakinan, dan prinsip sistematis yang menjadi landasan arah dan tujuan dalam kehidupan manusia, serta memberikan arah bagi perkembangan negara.
Jika PKI berhasil merebut kekuasaan dan berkuasa, maka kita semua wajib menganut paham Komunisme.
Hal ini sama persis dengan negara di Asia seperti Cina dan Korea Utara (Korut). Kehidupan yang saat ini dinikmati anak bangsa, akan terenggut.
Pola hidup tidak akan sama dengan sekarang, tetapi sama persis yang dialami rakyat Korut.
Menderita di bawah tekanan, semua serba di atur penguasa, bahkan sampai cara berpakaian dan penataan rambut harus ikuti aturan.
Apa mau negeri tercinta ini menjadi seperti itu? Dari sudut pandang saya, di sinilah letak keberhasilan dan menjadi salah satu pondasi kuat bagi Soeharto, yang kini diberikan gelar oleh pemerintah Indonesia sebagai salah satu Pahlawan Nasional.
Untuk itu mari kita berterima kasih yang tulus atas jasa para pahlawan yang telah berjuang dengan darah dan keringat demi kemerdekaan bangsa dan mempertahankan Ideologi bangsa. (Ver)
1,520 total views, 7 views today

