Tiga Jam Bersama Stenly Towoliu, Mantan Wartawan, Pegiat LSM yang Kini Owner “Pap’s Coffee”
Oleh: Amrain Razak
Manado, sulutexpress.com – Deretan kendaraan roda empat dan roda dua berjajar rapi depan kantor Samsat 17 Agustus siang itu.
Lalu lalang orang terlihat masuk keluar gedung tempat pengurusan pajak kendaraan bermotor yang beberapa bagian atapnya sudah terlihat copot.
Sepintas seperti gedung tua. Tak terurus. Padahal salah satu sumber PAD terbesar buat daerah berasal dari tempat ini.
Tepat di depan kantor pelat merah itu, berjejer beberapa tenant. Ukurannya tidak besar. Sekira 3×3 meter.
Salah satunya adalah “Pap’s Coffee”. Kedai kopi mini yang ramai pengunjung itu milik Stenly Towoliu. Mantan wartawan hukum liputan Kejaksaan Tinggi Sulut dan Pegiat LSM Anti Korupsi.

Saat bersua dengan wartawan siang itu, pria yang akrab disapa “Papi Stenly” ini tampil seadanya.
Mengenakan kaos oblong abu-abu. dipadu celana pendek warna coklat susu.
“Apa kabar pak Pemred. Lama tak bersua selepas akhir tahun 2025 kemarin ,” sambut Papi Stenly mengawali percakapan.
Bertahun-tahun bergelut dengan dunia advokasi, informasi, dan dinamika sosial, kini ia memilih jalur berbeda.
“Sudah lama terpikir untuk punya usaha sendiri, dikelola sendiri, dan memberi ruang berkumpul bagi banyak orang, khususnya teman-teman wartawan dan aktivis,” ujarnya.
Pap’s Coffee lahir dari ide sederhana sang owner. Menghadirkan tempat singgah yang nyaman, terjangkau, dan bersahabat.
Tidak mengusung konsep mewah dan tak mau dimodali orang lain.
“Sudah ada beberapa yang mau ajak join, tapi saya menolak. Biarlah kecil, tapi dari tempat ini diharapkan bisa lahir ide-ide besar membangun Provinsi Sulawesi Utara, di bawah kepemimpinan Gubernur YSK,” tandas Stenly.
Lama bergelut dengan dunia jurnalis dan LSM, bukan berarti Papi Stenly tak paham tentang dunia kopi.
Sejarah kopi di Indonesia, jenis kopi, hingga cara meracik kopi baginya bukan sesuatu yang baru.
“Saya belajar otodidak sejak masih di Jakarta lewat beberapa teman Barista,” ujar Papi Stenly meyakinkan.
Di kedai kopi miliknya, pengunjung yang didominasi wajib pajak kendaraan bermotor yang sedang ngantre, wartawan, pegiat LSM hingga aktivis bisa duduk santai, berbincang, atau sekadar melepas penat setelah aktivitas harian.

“Dulu terbiasa mengejar berita serta menginvestigasi dugaan korupsi. Sekarang harus memikirkan stok bahan, pelayanan, sampai strategi supaya usaha tetap jalan,” katanya sambil tersenyum.
Menurut Papi Stenly, banyak pelaku UKM lahir dari keberanian mencoba, bukan dari kesiapan sempurna atau modal besar.
“Kalau menunggu siap, mungkin tidak akan pernah mulai,” tegasnya, sembari menyuguhkan dua gelas minuman kopi panas namun beda racikan.
“Kalau ini namanya Americano, satunya lagi Jappanes Brew dingin,” katanya.
Papi Stenly lalu sedikit mengulas pengalaman pertamanya menikmati Espresso di tahun 2004 semasa kerja di Card Center BCA sudirman, Jakarta.
Dari sanalah dia mulai mempelajari tentang varietas dan jenis-jenis kopi yang ternyata ada 4 jenis. Bukan dua seperti diketahui kebanyakan orang.
Ada jenis Robusta, Arabika, Exelsa dan Kiberika. Dari penikmat kopi Espresso itulah yang membuatnya mulai mempelajari teknik brewing.
“Mulai dari manual brew, v60 dan Japanesse Brew semua belajar otodidak tentang cita rasa kopi hingga teknik brewing,” terang Stenly.
Namun satu yang menarik dari cara Papi Stenly memperlakukan relasi lamanya ketika berkunjung di Pap’s Cafe miliknya.
Kata dia, di Pap’s Cafe miliknya ini, “dilarang” bayar lebih. Cukup bayar sesuai yang anda minum.
Kendati masih tergolong usaha baru, Papi Stenly sudah menambah variasi menu makanan. Ada lontong sayur dan coto ayam, yang ditangani langsung oleh isterinya sendiri.
“Soal rasa dijamin enak sesuai leher Manado,” tandas Cing, salah satu kontraktor yang siang itu menikmati kopi latte dingin dan coto ayam.
Nah, bagi kamu-kamu yang penasaran dengan racikan kopi racikan Barista Papi Stenly, dan lezatnya Lontong Sayur, bisa datang langsung mencicipi di Jln. 17 Agustus, tepat depan Kantor Samsat Manado.
160 total views, 160 views today

